Sabtu, 17 Februari 2018

Kalimat dari Agroindustrial Week 2018


Minggu (10/02/18), bertempat di Universitas Internasional Semen Indonesia atau UISI khususnya di kampus B telah berlangsung sebuah acara Agroindustrial Week dengan tema Inovasi Pangan Menuju Indonesia Mandiri tahun 2035. Agroindustrial Week adalah acara tahunan yang diadakan oleh mahasiswa Teknologi Industri Pertanian. Dalam acara Agroindustrial Week kemarin terdapat dua jenis lomba yang diadakan yaitu Lomba Poster dan Lomba Karya Tulis Ilmiah yang diikuti oleh para siswa di tingkat SMA se-Indonesia. Ketua Pelaksana dari acara ini yaitu Syafrina Faradilla mengatakan alasan mengapa lomba AW kali ini bertema inovasi pangan adalah karena semakin kesini orang tertarik dengan makanan yang aneh-aneh dan tentunya healthy. Kenapa 2035? Karena diprediksi bahwa tahun 2035 akan ada persaingan dalam hal pangan yang sangat kuat. Selain mengadakan kegiatan lomba para panitia juga menyediakan sedikit hiburan untuk para peserta yaitu dengan pertunjukkan dari beberapa band lokal dan bazaar makanan. Untuk lomba poster, juara 1 diraih oleh SMAN 1 Pamekasan, juara 2 diraih oleh MAN 1 Lamongan, untuk juara 3 diraih oleh SMKN 2 Purbalingga. Untuk lomba LKTI , untuk juara 1  diraih oleh SMA TambakBoyo Tuban, untuk juara 2 diraih oleh SMA BPOPKRI Yogyakarta, untuk juara 3 diraih oleh SMAN 5 Denpasar. Menurut salah satu juara lomba poster dari MAN 1 Lamongan menurut mereka pada saat mengikuti lomba AW sangat menyenangkan sekali selain itu mereka juga mendapatkan pengalaman baru dan untuk mencari tambahan nilai untuk SNMPTN.
            Agroindustrial Week 2018 ini sedikit unik, dimana juri untuk kategori lomba Karya Tulis Ilmiahnya memanggil juri dari dosen DKV, ibu Tyas Ajeng Nastiti , S.T , M.Ds . Seorang dosen dari departemen Desain Komunikasi Visual ini mendapat kesempatan menjadi juri dalam lomba LKTI. Tentunya ada banyak hal yang didapat dan dirasakan saat pertama kali menjadi juri dalam lomba LKTI se-Nasional ini. Wajahnya begitu sumringah dan senang bisa tergabung dalam acara Agroindustrial Week 2018  , bisa mengetahui hal-hal sepeleh ternyata memiliki manfaat dan kegunaan yang baik.
Saat diwawancarai (10/02) mengenai acara Agroindustrial Week 2018 ini . beliau berkata banyak hal “ acaranya seru banget , ini pertama kali saya menjadi juri. Inovasi dari peserta pun beragam dan menarik , banyak hal baru yang saya dapat dalam kegiatan ini .” tukas bu Tyas . Adapun kesan pesan yang disampaikan bisa dijadikan pelajaran dan agenda. Menurut beliau , acara ini harus diadakan setiap tahun , inovasi yang dibuat pun dikembangkan ke masyarakat agar menjadi informasi baru dan sebagai alternative juga . Untuk acaranya sendiri pun , next AW 2019 lebih di tata lagi dalam hal waktu . Yang awalnya 1 hari di tata lagi 2 hari dengan lebih banyak mengisi kegiatan positif seperti seminar ataupun workshop . Kesan pesan ibu Tyas bisa dijadikan acuan untuk next ketua Agroindustrial Week 2019 dalam konsep acara. (JIM)

Senin, 05 Februari 2018

Apa Itu FORAGRIN ?


Agroindustri hingga saat ini masih menjadi salah satu bagian yang terpenting dalam menggerakkan roda perekonomian bangsa Indonesia. Hal ini yang pada akhirnya memposisikan agroindustri sebagai sumber devisa negara di sektor non-migas. Peranan agroindustri tidak kalah pentingnya jika dibandingkan tunjangan energi yang harus ditanggung oleh suatu negara. Artinya, agroindustri tidak pernah lepas dari sisi-sisi kehidupan bangsa indonesia sehari-harinya.

Apa sih FORAGRIN itu?? Belum pernah denger? Sebagai Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian perlu diketahui bahwa kita punya suatu forum yang disebut dengan FORAGRIN , yang mana merupakan singakatan dari Forum Agroindustri Indonesia. FORAGRIN adalah Suatu Organisasi Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian yang didirikan tanggal 6 April 2008 di Universitas Brawijaya Malang. Pada awalnya merupakan hanya suatu perkumpulan antar sesama departemen Teknologi Industri Pertanian (TIN/TIP). Pada tahun 2006 mahasiswa yang terdiri dari beberapa universitas yang ada di Indonesia yaitu Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, dan Universitas Trunojoyo. Berkeinginan bahwa organisasi FORAGRIN adalah organisasi yang legal dan formal. Sehingga pada tahun 2008 yang ketua umumnya adalah Agus Faisal (IPB) telah memiliki arsip organisasi sehingga menjadi organisasi yang legal.

VISI
FORAGRIN mewadahi insan agroindustri dan berkontribusi dalam perkembangan agroindustri Indonesia.

MISI   
Memberikan informasi kepada masyarakat tentang perkembangan dan peluang dunia agroindustri Indonesia.
Mampu menjembatani praktisi agroindustri Indonesia dengan mahasiswa agroindustri dalam rangka aktualisasi ilmu agroindustri.
Ikut serta dalam pengkritisan perkembangan agroindustri Indonesia.
Menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang sejalan dengan visi FORAGRIN.
Mengaplikasikan keilmuan dan keprofesian agroindustri kepada masyarakat.
Keanggotaan FORAGRIN adalah seluruh mahasiswa Teknologi Industri Pertanian di Indonesia, berikut merupakan beberapa anggota FORAGRIN:

Universitas Gadjah Mada

Institut Pertanian Bogor

Universitas Brawijaya

Universitas Trunojoyo Madura

Universitas Lambung Mangkurat

Universitas Bengkulu

Universitas Udayana

Universitas Pendidikan Indonesia

Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Institut Teknologi Indonesia 

Universitas Jember

Universitas Djuanda

Universitas Darussalam Gontor

Universitas Internasional Semen Indonesia 

Universitas Padjajaran

Artinya, FORAGRIN masih merupakan organisasi muda yang menjadi estafet perjuangan dari forum-forum agroindustri yang sebelumnya sempat berdiri dan vakum hingga saat ini. Oleh karenanya, dibutuhkan suatu metode dalam memperbaiki dan merapikan barisan kader forum ini sebelum benar-benar fokus pada agroindustri. Indonesian Agroindustrial Student Leaders Summit (IASLS) merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dimaksudkan sebagai pembenahan sekaligus pencetakkan generasi yang berkarakter agroindustri dalam menjawab tantangan dunia. Muatan yang diberikan berupa simposium, diskusi, pelatihan, dan beberapa kegiatan lainnya diharapkan mampu memperkuat paradigma pertanian yang dimiliki sehingga menjadi insan agroindustrialis yang kompeten. Artinya, diberikan suatu wadah kreativitas dalam merumuskan serta memberikan solusi masalah yang ada saat ini. Selain itu, juga sebagai suatu langkah kongkrit dalam mempersiapkan generasi bangsa yang berwawasan agroindustri sehingga siap bersaing di masa depan.